I’M BACK from MUDIK and manymore

24 10 2008

 Hola semuanya! Looooooooooooong time no see ya sepertinya? Sebenarnya gue sangat rindu nulis. Gue udah lama nggak nulis, gue udah lama nggak menumpahkan ini semua… Yeah, entah karena komputer gue yang bodoh atau internetnya yang menyebalkan atau guenya yang sibuk. Tapi akhirnya, i’m back. :)  

 Banyak sekali yang akan gue ceritakan di postingan ini. Karena waktu berlalu, banyak yang terjadi. Dimulai dari ritual mudik gue yang akan mendominasi cerita ini (siap-siap), lalu ulang tahun ke-16 gue yang tidak terlalu heboh tapi menyenangkan, dan tak lupa ujian blok yang sukses bikin otak gue muntaber.

Ulang tahun ke-16 gue tanggal 10 Oktober yang lalu, menyenangkan sebetulnya. Dimulai pada pagi hari pertama sekolah. Disambut oleh beberapa uluran tangan selamat ulang tahun campur minal aidin wal faidzin yang membuat gue kebolak-balik sendiri. Kalo diberi selamat ulang tahun gue jawab sama-sama, kalo minal aidin gue jawab terima kasih. Duasaar.. By the way, thanks for all… I apreciate that, guys… Lalu di malam harinya, gue merayakan bersama orang-orang tercinta, keluarga secara kecil-kecilan di HEMA, Dutch Resto yang bikin gue kangen masa-masa SD. Hehe..

 

H.E.M.A 

 

 

 

 H.E.M.A

 

Gue membuat banyak wish di ulang tahun gue ini. Malem sebelumnya gue sempet nangis karena inget semua dosa dan menyesal tidak memanfaatkan 16 tahun hidup gue ini dengan sebaik mungkin. I hope I can be a better person

Dan ujian blok dalam 5 hari ini. Membuat Cipro Quantum menjadi rumah kedua gue. Membuat gue agak sedikit gila. Let me review it quickly,

Fisika, Kimia: Masih semangat, OK laah..

Mat, Biologi: semangat mulai memudar, tidak teliti memuncak

B.Indonesia, B.Inggris: Yang paling disepelekan, yang paling menyebalkan

PKn: Ya begitulah

TIK, Sejarah: pelajaran terpinggirkan, tapi masih OK

B. Perancis, Agama: tingkat semangat hampir nol, haha.

menggila!

meja belajar abstrak

Bear Brand dan perbekalan lainnya

Malem sebelum ujian blok, gue merasakan kegilaan terparah. Di saat gue kelaparan, gue memutuskan untuk bikin telor ceplok. Dan saat menuangkan minyak ke atas penggorengan, tiba-tiba gue keinget sebuah soal Fisika yang baru aja gue kerjain. Tentang muatan-muatan gitu. Gue ngeliatin minyak itu sambil mikir. Nih minyak muatannya positif ato negatif ye? Terus kalo di lewatin ke 2 keping logam bermuatan apa jadinya ya?

Argh. Gue jadi sebal. Gue runtuhkan imajinasi yang tidak menyenangkan itu. Tapi tidak lama, saat menuangkan telurnya, gue inget kata-kata Bu Nurul. Katanya, kalau mau jadi ibu rumah tangga pun harus pinter. Telur kalo dikocok itu proteinnya bisa rusak, apalagi kalau digoreng… Argh. Gue mencoba untuk melupakan itu. Bodo amat. Yang penting gue mau makan.

Eh, tak lama gue malah kepikiran Biologi. Gue merhatiin kuning telur yang ada di tengah lalu memperhatikan. Mencari inti selnya. Telur itu termasuk sel. Di dalam inti sel ada kromosom, di dalem kromosom ada DNA yang susunan basa nitrogennya menentukan sifat genetik suatu spesies. Argh. Tambah parah lagi! Ya Allah, mau makan telor aja ribet banget siih? Untung aja gue ngga keinget matematika. Bisa-bisa gue malah ngitung volume benda putar berupa wajan yang diputar terhadap sumbu Y pake integral lagi. Aaaargh, gila!

Anyway busway, gue lagi membuat beberapa resolusi untuk menghadapi kelas tiga ini nih… Masih dalam taraf penyusunan siih… Gue beri nama, Rea’s Project. Insya Allah mulai Senin akan gue mulai misi-misi rahasia ini. Huakakak. Doain sukses ye!

Dan terlepas dari kesenangan gue menulis, sempat berpikir untuk vakum ngeblog sampai UN dan SNMPTN selesai. But then I realize that sometimes I need to push my “pause” button. And in this way (i mean writing) I can make the earth stop spinning for a while. So, i need it, i can’t live without it.

Lepas dari semua itu, please enjoy my MUDIK trip,, hehe…… Maaf udah basi banget! Here it is

 

MUDIK

Perjalanan itu dimulai pada hari Sabtu, 27 September malam. Dengan mobil Toyota Innova hitam, gue sekeluarga melaju. Beuh. Baru satu jam perjalanan, kami sudah dihadang macet! Bayangin aja, baru lepas tol Bekasi Timur, terus ada pom bensin yang super heboh itu, belum nyampe Cikarang! Parah. Untungnya insting kebo gue lagi bersahabat malam itu. Dengan tentram dan damai, gue tidur. Yeah!

 

 

(very) bad hair day

Singkat cerita, perjalanan itu tak terlalu melelahkan. Tak ada kemacetan yang berarti lagi. (atau waktu macet gue lagi tidur?) Tiba-tiba udah masuk waktu sahur aja. Di sekitar Tasikmalaya, kami berhenti untuk makan. Gue mesen ayam goreng. Walau restorannya besar, tapi agak kotor gitu gue ngga suka. Tapi tak apa-apalah, yang penting ada pemandangan lumayan sedep. Hehe, halo laki-laki ber-capuchon!

Tapi yang mau gue bahas di sini adalah ayam gorengnya. Kenapa? Andai lo bisa nyobain. Itu ayam goreng ter-ngga enak yang pernah ada. Bahkan laki-laki ber-capuchon yang duduk di seberang itu tidak dapat memperbaiki selera makan gue. Gimana ya? Agak-agak kurang mateng gitu. Seketika, teori yang telah gue bangun bertahun-tahun hancur. Menurut hukum yang gue buat, rasa ayam goreng itu cuma 2, enak dan enak banget. Hmm, mungkin ada suatu perkecualian. Anomali pada variabel yang satu ini. Ckckck…

Malas basa-basi lebih banyak, yang jelas gue mengalami kebosanan dengan tingkat cukup tinggi selama perjalanan. Entahlah, yang ada di pikiran gue cuma sesuatu itu.

Jogja

Tibalah gue di Yogyakarta untuk transit. A VERY B-E-A-UTIFUL CITY. Siang hari 28 September. Check in di Hotel Melia Purosani, lalu tidur menunggu buka puasa.

Makan ta’jil di hotel, lalu cabs naik delman ke Bakmi Kadin. Kusir delman di sini pake seragam warna oren, terus pake blangkon. Kenapa ya, kalo di luar negeri orang yang mengendarai kuda itu selalu dianggap keren? Pasti badannya kekar aduhai, pake celana kulit yang ketat, kemeja kotak-kotak, terus digilai banyak cewek. Kalau di Jogja, mengendarai kuda hanyalah untuk menyambung hidup. Tapi gue tetep suka. Ramah banget! Logat medoknya itu loh. Mengalahkan eksotisnya logat British.

Makan mi kuah di Bakmi Kadin. Sebenarnya biasa aja sih. Enak aja, ngga pake banget. Apa karena waktu itu gue lagi pengen ee’? (ups!) Tapi suasananya OK banget. Mengalahkan live music di kafe manapun. Ada akustik keroncong yang ngebawain lagu-lagu lama gitu. Orang-orang yang ada di sana boleh request sepuasnya. Dan nyokap dan bokap gue yang terbawa sindrom masa lalu pun meminta lagu Sepasang Mata Bola dan Setangkai Anggrek Bulan. Dasaaarrr. Dan kami pun hanyut dalam melodi. ¯Hampir malam di Jogja… Ketika keretaku tiba… Remang-remang cuaca… ¯

Lanjut. Naik becak ke Malioboro. Pertama, belanja batik. Gue cuma beli sepotong celana pendek. Lalu, menyusuri jalan Malioboro. Wisata belanja yang satu ini emang bisa mengalahkan Orchard Road di Singapur, hehe. Paling nggak, di sini barangnya masih bisa dijangkau dan kualitasnya ngga kalah. Gue beli kacamata gede dan kalung nama.

 

Dua bersaudara pembawa bencana

Setelah menghirup teh di sebuah perempatan Malioboro, perjalanan kami lanjutkan. Di sini ada busway juga toh. Namanya Trans Jogja. Tadinya pengen naik ini, tapi ternyata udah mau tutup. Ya udahlah emang nasib.

Wow! Ternyata waktu itu sedang ada pertunjukan wayang di samping Hotel Garuda. Gila, kota ini emang masih kentel banget unsur tradisionalnya. Nggak heran banyak bule yang betah di sini. Gue menikmati pertunjukannya (walaupun ngga ngerti). Sambil menikmati ronde hangat. Hmm… :)

Lelah berjalan-jalan, kami pun kembali ke hotel setelah membeli beras kencur dari seorang tukang jamu yang mangkal.  Beras kencurnya enak! Anget, bikin tenggorokan jadi merasakan sensasi nikmat. Woohoo! Malam yang sangat menyenangkan…

Esok paginya, gue dan nyokap naik becak ke Pasar Pringharjo. Pasar yang penuh batik di setiap sudutnya. Sampe mabok batik gue. Nyokap beli beberapa sprei batik yang jadul banget. Setelah Pasar Pringharjo, kami ke pusat oleh-oleh. Beli makanan untuk oleh-oleh. Nice!

 

Siang hari setelah check out, kami kembali berkeliling Kota Jogja. Ke UGM. Melihat bangunan gagah khas perguruan tinggi. Wew!

Setelah membeli Gudeg (gue lupa nama tempatnya) untuk sahur besok, dengan berat hati kami meninggalkan kota ini. Meninggalkan kota yang sangat indah. Menuju ke kota kelahiran, Blitar.  I looooooove this city so much.

 

Astana Giri Bangun

Lanjut, gue mengunjungi Astana Giri Bangun, Karanganyar. Wow. Gue suka tempatnya. Tempat peristirahatan terakhir penguasa orde baru. Yeah, tempatnya sejuk dan cukup rimbun dan ngga terlalu rame. Tapi yang gue heran, banyak pungutan biaya gitu sejak awal masuk gerbang. Ya Allah, apa nggak kurang kaya tuh keluarga Pak Soeharto?

Anak kecil kecepetan puber

Lalu buka puasa dengan sate kambing dan gule di Magetan. Two thumbs up! Yummy!

Before and After, huekekek

Jam 20.00 akhirnya sampai di Blitar! Turun di rumah nenek dari bokap. Masih sepi. Cuma ada dua sepupu gue. Nenek gue lagi pergi. Gue dan bokap nyokap pun memutuskan untuk menuju Hotel Tugu Sri Lestari di Jalan Merdeka. Mengunjungi satu-satunya tante dari nyokap.

Dari empat kakek dan nenek gue, yang masih hidup hanya seorang nenek, nenek dari bokap. Kedua kakek gue tak pernah gue lihat, nenek dari nyokap meninggal tahun 2003.

Nah, karena nenek dari nyokap udah meninggal, dan satu-satunya saudara kandung nyokap tinggal di Surabaya, jadi rumah nenek gue itu kosong. Ngga ada yang nempatin. Tapi tiap hari dibersihin sama tetangga. Dan kadang-kadang dia tidur di situ. (agak ribet ya?)

Sebenarnya rumahnya nggak serem. Tapi mungkin bagi nyokap dan tante gue, setiap sudut di rumah itu menyisakan banyak kenangan yang dapat mengingatkan mereka pada sosok nenek gue itu.

Yeah, di Hotel Tugu Sri Lestari, gue bertemu denganTante, Om, dan 2 sepupu gue. Hotelnya bagus. Gue suka. Masih kentel banget arsitektur khas Belanda-nya. Pintunya tinggi-tinggi, banyak foto-foto jaman dulu, banyak surat-surat jaman dulu yang dipajang di meja pajangan.

Gunung Kelud

The next day, Selasa, 30 September 2008. Hari terakhir puasa. Penghabisan. Puas-puasin puasa.

Pagi hari gue udah bangun dan siap-siap karena akan ke Gunung Kelud! Gunung yang tiga tahun ini bikin sensasi akhirnya gue kunjungi lagi untuk yang kedua kalinya. Tahun 2006 gue melakukan kunjungan pertama. Kawah kelud masih indah. Mirip danau. Airnya warna hijau muda. Kaki pun bisa menyelup ke sana. Tak bisa dibayangkan akan terjadi banjir sedahsyat apa bila seluruh air di sini tumpah ruah ke sekelilingnya.

Tahun 2007 rakyat Kediri, Malang, dan Blitar dihebohkan oleh gunung ini. Dan kehebohan itu memuncak saat libur lebaran. Bisa dibayangkan, SIAGA 1! Gue sekeluarga udah takut banget tuh. Soalnya di tahun 1991, letusan Gunung Kelud cukup dahsyat. Seluruh barang berharga dan sedikit persediaan makanan udah dimasukin ke dalem mobil. Kita menunggu dengan cemas di teras rumah nenek gue sambil mendengarkan siaran berita di radio. Karena tidak sempat membeli masker, kami memegang suatu kain yang bisa jadi penutup mulut dan hidung bila nanti terjadi hujan debu. Namun Alhamdulillahirabbilalamin, letusan itu tidak terjadi…

Lalu gue pun bertanya-tanya, bagaimanakah bentuk kawah Gunung Kelud yang sekarang?

 

Sebelum ke kawah

Setelah menyusuri jalanan naik turun, kami turun dari mobil lalu melewati terowongan yang katanya peninggalan Jepang yang super super gelap. Di sana sel kerucut manusia tidak bisa bekerja, buta sementara. Diiming-imingi oleh setitik cahaya di ujung sana yang entah butuh berapa langkah lagi untuk sampai kepadanya.

Dan akhirnya, kegelapan itu diganti cahaya matahari. Namun perjalanan belum selesai! Kami harus menuruni beberapa anak tangga terlebih dahulu agar bisa menikmati kawah Gunung Kelud dari dekat.

Dan……………………… WOW! Danau kawah warna hijau muda yang luar biasa indah itu telah lenyap! Yang ada sekarang malah sebuah gunung kecil yang dinamai penduduk sekitar, Anak Gunung Kelud. Oooh, jadi ini toh yang menyumbat kawah sehingga satu tahun yang lalu letusan tidak terjadi. Ckckck…

 

Sok arkeolog (ada mas-mas bule di samping. Hakakak. Piss ndru. :) )

Anak Gunung Kelud

Untung ngga jadi meletus ye? Ngga bisa ngebayangin gue. Material batu-batu sebanyak itu (yang kayanya perlu ratusan truk untuk mengangkutnya) meledak dan jatuh berceceran di Kota Blitar…..

KULINER!

Setelah puas melihat-lihat, kami cabs ke Kota Blitar lagi.

Nyempetin nyekar ke makamnya eyang gue. (I miss you Oma…)

Lalu ber-kuliner ria! Non- stop dari buka puasa sampai malam hari. First stop, rumah makan Ma’ Ti. Gokil nih tempat. Perlu belak-belok masuk agak pedalaman dulu untuk bisa mencapainya. Dan saat sampai tempatnya, gue agak shocked. Nggak keliatan sama sekali kalo ada rumah makan di situ.

Dengan hati-hati, gue masuk ke dalem sebuah rumah. Dan tiba-tiba agak il-feel ngeliat dapurnya. Bau amis gitu. Yang menarik perhatian gue adalah ada penggorengan yang super gede, panci super gede, dan gayung untuk ngambil kuah. Masaknya masih pake tungku gitu…

Eh, ternyata oh ternyata, ada ruang makan di halaman belakangnya. Cukup luas dan rame. Ternyata parkiran mobil ada di sana. Kami mengambil sebuah meja, lalu para ibu-ibu sibuk ‘bertempur’ mengambil makanan. Sistem makan di sini bisa dibilang buffet, ngambil sendiri. Dan beberapa menit kemudian, mereka datang membawa berpiring-piring makanan. Ada ikan goreng yang keliatannya sedap, ada ayam bumbu rujak, ada urap, dan apa lagi ya gue lupa. Tak lama nasi pun datang.

Dan tak lama adzan Maghrib pun berkumandang. Dan MAKAAAAAAAN… Allahummalakasumtu wabika amantu waalarizqiqa aftortu birahmatika yaarhamarrahimiin. Lalu buka puasa terakhir di tahun ini gue habiskan di tempat yang gokil seperti ini.

Hmm, (makan dulu baru komentar). Makanan yang kontroversial. Kenapa? Karena ada dua pendapat yang muncul. Dari kubu sebelah Barat, Om gue yang Orang Belanda dan 2 sepupu gue dengan mantap mencela makanan itu. Bahkan salah satu sepupu gue langsung berhenti makan sejak gigitan pertama!

Dan dari kubu sebelah Timur, Nyokap bokap dan tante gue yang asli wong mBlitar menyatakan dengan tidak kalah mantapnya kalau makanannya enak. Wuah, dan pertempuran yang lebih heboh daripada perang dunia ke 2 pun terjadi. (lebay)

Gue masuk kubu yang mana??? Hmm, netral aja deh. Dibilang ngga enak ya ngga gitu-gitu amat, dibilang enak banget ya enggak jugalah… Ikan gorengnya mantap sebenarnya… Krenyes krenyes. Tapi durinya bukan main. Lalu ayam bumbu rujaknya…. Ya, not bad siiih…

And then, malemnya kita berburu kuliner lagi. Bukan makanan berat siih… Tapi ngga kalah gokil!

Sebagai Appetizer, kita makan bakso di Bakso Gangsar. Sebuah bakso yang cukup terkenal di Blitar dan sudah punya 3 cabang kalau tak salah. Wuih, ini adalah salah satu makanan yang gue tunggu-tunggu sejak sebelum mudik. Dan, hasrat gue pun terpuaskan di sana. Yippie… Yeah, walaupun agak kurang puas juga karena mie nya lagi abis… Tapi tak apa-apalah kuahnya itu loh yang beda sama bakso-bakso di Jakarta…

Next stop, kolak roti di deket alun-alun! Minuman ini paling enak diminum abis hujan. Enak…….banget… Menikmati panas-panas dengan backsound kembang api yang menggila.

Yeah, begitulah perjalanan kuliner gue. Agak kurang puas sebenarnya… Ada beberapa makanan yang belum sempat gue santap. Huhuu…

***

Yep, karena besoknya Shalat Ied, gue memutuskan untuk tidur cepat. Setelah malam sebelumnya gue menginap di rumah nenek dari bokap, malem takbiran ini gue lalui di rumah nenek dari nyokap. And you know, gue cuma bertiga tidur di sana! Bareng nyokap sama tante gue.

Fiuh, sebenarnya seperti yang gue bilang, ngga serem sama sekali!

Tapi…. Tapi…. gue terserang insomnia. B**i! Sementara gue nengok kiri kanan, kedua bersaudara itu sudah terlelap. Yeah, lalu gue sempet bolak balik kiri kanan, baca koran sampe abis, main hp berkali-kali, sampai gue terlelap walau tak nyenyak.

Gue berlari, berlari, dan terus berlari. Tapi entah kenapa, napas gue ngga kuat. Seakan ada yang menyempitkan saluran pernapasan gue tanpa perikemanusiaan. Napas gue semakin terengah-engah… Gue udah ngga kuat……………………….

Sialan, gue mimpi! Dengan keadaan yang tidak menyenangkan, gue terbangun dari tidur yang telah susah payah gue wujudkan itu. Argh, asma! Gue nengok kiri kanan, masih nyenyak semua. Gue perhatiin keadaan sekitar. Beuh, pantes aja! Orang jendela dan pintu kamarnya ketutup rapet! Gimana bisa napas?

Gue pernah berpuluh-puluh kali merasakan asma, dan berpuluh-puluh kali juga sampe kebawa mimpi. Tapi dalam beberapa tahun ini udah jarang banget kambuh. Dan gue menenangkan diri. Meluruskan pikiran. Katanya, salah satu pemicu asma itu stress.

Yeah bagus banget, obat asma gue ada di koper. Dan kopernya ada di rumah nenek dari bokap.

Gue melihat nyokap gue, tapi ngga tega kalau harus membangunkannya. Gue pun keluar kamar dan berusaha mencari udara segar. Hmm, di luar udah sepi. Jam menunjukkan pukul 02.00. Padahal, beberapa jam yang lalu jalan raya di depan masih rame banget sama orang takbiran (pake lagu dangdut).

Aduuh, how long should I wait? Ngga reda-reda juga nih asma……..

And lucky me, beberapa menit kemudian nyokap terbangun dan menyadari gue ngga ada di kasur.

Lalu, masalah pun segera terpecahkan. Bokap gue nganterin obatnya, inhaler gitu. Yeah! Dan akhirnya berakhirlah sudah…

Ied Mubarrak

Gue membuka mata. Sudah terang. Gue melihat keadaan sekitar. Anjrit, gue ketiduran di teras. Di sebuah sofa. Sementara bokap dan nyokap gue tidur di matras. Hehe, jadi terharu… Gue duduk sebentar mengumpulkan nyawa. Jalanan masih sepi, jam 05.30.

:) Hari kemenangan telah datang. Dengan semangat gue mandi dan memakai baju lebaran gue. Lebaran ngga harus pake baju baru, tapi ngga afdol kayanya kalo ngga pake baju baru. Hehehe.

Sebuah gamis motif kotak-kotak warna pink. Wuakakak.

Yang lainnya udah siap. Dan kami pun berangkat naik mobil. Padahal sih sebenarnya tempat Shalatnya deket…

Lapangan Tenis Agung. Yang ngadain dari Muhammadiyah gitu. Hampir setiap tahun gue Shalat Ied di sana. Pretty nice. Shalat yang lumayan khusyu’, nyaris ngga ada suara tangis bayi. Tapi ceramahnya… Agak kontroversial buat gue.

Di rumah nenek, perbincangan tentang isi ceramah itu pun terjadi. Yang paling berapi-api sih Om gue…

Jadi begini loh, penceramahnya itu bilang kalo kita sudah banyak dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Salah satu yang kurang kami setujui adalah tentang kesetaraan gender. Si penceramah bilang kalau banyak penyimpangan-penyimpangan yang udah terjadi mengenai isu gender ini. Seperti perempuan yang jadi pemimpin, atau perempuan yang bekerja hingga lupa dengan tugas aslinya, dan lain-lain.

Hmm, ada benernya juga sih… Kan tugas alami perempuan itu ngurusin suami dan anak… Tapi kalau jadi pemimpin, kenapa ngga boleh ya? Selama si perempuan masih menghormati suami dan ngurusin anak sih ngga masalah ye? Ah ngga tau lah, takut salah… Ilmu gue masih sedikit. Hehe.

Lanjut, acara yang paling gue tunggu-tunggu. Pembagian THR. Huakakakak. Setelah bersalaman dan bermaaf-maafan, sang orang dewasa pun mulai mengeluarkan amplop dari sakunya dan THR pun dibagikan. Yippie!

Nah, itu baru rutinitas di keluarga nyokap. Belum di keluarga bokap. Tanpa ba-bi-bu lagi, gue sekeluarga cabs ke rumah nenek dari bokap. Kebetulan, letaknya tak begitu jauh, ngga nyampe sepuluh menit kalau naik mobil.

Pas gue dateng di sana, belum ada yang dateng. Hehe. Semuanya masih sibuk di rumahnya masing-masing. Cuma ada satu keluarga bude gue (anak tertua) yang emang tinggal di sana.

FYI, dari enam bersaudara bokap, yang merantau ke Jakarta ya cuma bokap gue. Sedangkan yang lainnya stay di Blitar. Jadi, yang merasakan mudik ya cuma keluarga gue doang. Gue jadi satu-satunya tamu di kampung halaman gue itu. Artinya, gue menjadi raja dalam beberapa hari itu! Yea!

Setelah makan ayam opor yang enak banget, gue nungguin saudara gue yang lain. Gue nonton tipi, tapi belom dateng juga. Gue pun memutuskan untuk tidur-tiduran bentar di kamar. And you know, sebagai kebo, gue ngga mungkin bisa tahan sama godaan bantal yang empuk dikit plus angin sepoi-sepoi. Dan gue pun tertidur…

Dan saat gue terbangun, tiba-tiba ruang tamu sudah ramai. Waaah, 6 keluarga telah berkumpul. Tumpah ruah di ruang tamu. Udah mulai salam-salaman gitu. Wuaduh. Gue yang masih ngantuk dengan rambut berantakan pun  langsung gabung. Hasilnya, mata setengah, konsentrasi seperdelapan. Bagus banget.

Maaf ya, kalo gue salah sebut nama waktu salaman atau salah salam.. Hahaaa…

Tapi, event selanjutnya jelas bikin mata dan otak gue ON lagi… Huahahahaa. Apakah itu? Yeah, tak lain tak bukan, bagi-bagi THR (lagi). Lucky me, gue masih dianggap anak-anak jadi masih dapet jatah THR. Ngga tau deh setaun lagi masih dapet atau nggak… Huhuu, jadi manfaatkanlah THR-mu nak!!!

Mengenai nominalnya, hehe. Rahasia dong. Yang jelas uangnya langsung diinvestasikan (wuedeh, gaya bener) dalam bentuk gelang emas. Hahaha…

Lanjut, ritual lebaran seperti biasa… Silaturahmi ke rumah saudara-saudara. Sampe mabok kue kering gue… Hahahaa… Favorit gue, kacang goreng, kastangel, dan putri salju… Deliciouso!

Over all, komentar orang-orang yang paling dominan sih, tambah kurus. Hehee. Kurus dari Hongkong?

Malemnya, gue tidur di rumah nenek dari nyokap lagi. Tapi kali ini, rame-rame. Berdelapan! Wuidiih… Tidurnya di teras semua gitu! Gokil… Sambil bersenda gurau dan nonton adek gue yang show nyanyi, kami menyantap nasi goreng warna pink (yang super enak) beli di seberang jalan. That’s why i really love lebaran!

***

 

Lebaran hari ke-2… Plain, sooo plain… Ngga banyak yang bisa gue ceritakan. Bangun kesiangan, dan dihibur oleh es dawet sebelah rumah. Tak lama datang lagi gado-gado yang super mantap! Sayang beribu sayang, tante dan sepupu gue harus pulang ke Surabaya pada hari itu. Iya begitulah, mereka merencanakan ke Pantai Plengkung, Banyuwangi gitu… Huhuu… Sepi deh…

Sampai malam, gue menghabiskan waktu di rumah nenek dari bokap. Bolak balik ada tamu, yang berarti gue harus membantu melayani dikit-dikit atau mengecilkan volume tipi.

***

Lebaran hari ke-3… My last day in Blitar for this lebaran. So, puas-puasin sampe puas. Siang hari gue diajak ke rumah salah seorang tante gue untuk main. Yes, daripada bosen sampe ompong di rumah, gue pun menyanggupinya. Bokap nyokap gue lagi ada reuni SMA gitu…

Yep, dibonceng kakak sepupu gue, kami pun meluncur ke rumah tante gue tercinta. Dia punya anak kecil umur 3 tahun gitu. Lagi lucu-lucunya… Lagi gendut-gendutnya… Siapapun yang ngeliat pasti pengen nyubit pipinya.

Sudah beberapa tahun terakhir ini, keluarga dari bokap gue diramaikan oleh tiga orang ‘generasi penerus’ yang baru. Yeah, gue dapet 3 sepupu baru dalam 3 tahun. Dan, pada hari itu, mereka semua berkumpul di rumah tante gue… Aduh, lutuna..

Hiaat, dan kami memutuskan untuk ke Apollo, sebuah toserba yang di lantai atasnya terdapat arena bermain semacam timezone gitu. Kasian emang orang Blitar. Hiburannya sedikit. Bioskop aja ngga ada… Aduhaduh…

Bersama sepupu-sepupu kecil gue, kita menghancurkan apollo. Hiakakak. Gue mengawali permainan ini dengan main basket. Agak-agal sok keren gitu gue. Hiaahaa. Padahal sering belibet sama bola sendiri…

Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue mencoba permainan dance dance revolution (tau kan?). Selama ini, gue selalu malu untuk mencoba permainan itu. Atas desakan dari sepupu dan adek gue, gue pun mencoba. Gue pikir, yah siapa tau aja ternyata gue punya bakat di bidang ini. Hiahahahaha..

Bismillahirrahmanirrahiim. Gue naik ke dancefloor (gaya beud). Gue di sisi sebelah kiri, dan sepupu gue di sebelah kanan. Gue cuma manggut-manggut aja waktu dia milih lagu dan levelnya. Dan permainan pun dimulai. Dan gue mulai bergerak penuh keyakinan. Kaki ke depan, serong belakang, lalu hampir split, kayang, dan tiger sprong. *lebay*

Dengan muka yakin gue senyum senyum. Gue terlalu konsentrasi sama panah-panah itu dan tidak melihat nilai gue. Dan nilai akhir pun ditampilkan. ……………. Bah, gue dapet nilai F dan sepupu gue dapet nilai A. Ternyata dari tadi hampir semuanya ‘miss’.

Secara diam-diam gue pun mencoret “dancer” dari list cita-cita gue. Hiakakakk…

***

Sorenya, gue pun harus pulang ke Jakarta. Hiks! I love this city sooooo damn

Setelah berpamitan, kami pun meninggalkan kota Blitar dengan sangat berat (karena bawaannya tambah banyak). Dan di mobil gue cuma bisa diam dan mainin PSP punya adek gue. Kadang terlibat obrolan seru dengan bokap nyokap dan adek gue, kadang tertidur, kadang melamun, kadang nyanyi-nyanyi kaya orang gila, untuk mengusir rasa bosan.

Seperti pada umumnya, perjalanan pulang sangatlah santai, tidak diburu waktu. Tapi saking santainya jadi tidak menyiapkan apa-apa. Tadinya mau transit semalem di Solo, tapi karena belum booking, ngga kedapetan kamar deh. Semua hotel full. Kami pun melanjutkan perjalanan seusai istirahat sejenak makan Tengkleng yang super duper lezat di sebuah warung di Solo. Wow, bokap gue kuat banget. Nyetir tanpa istirahat semaleman…

Kami sempat makan siang di Rumah Makan Pesona Laut (daerah mana tuh, gue lupa) keesokan harinya, sambil menikmati Pantai Utara, sambil menyelonjorkan kaki… Ah, nikmatnya duniaaa…

Sekitar jam setengah satu, kami pun mendarat di rumah yang sangat kami cintai… I just love being here more than anywhere. This is a perfect place for me.

***

Dan itulah akhir cerita Mudik 2008 gue… Sebuah ritual yang biasa gue lakukan, yang setiap tahun gue nantikan. Itulah saat di mana gue bisa merelaksasikan otak. Menyusun kembali rencana-rencana..

Gue pengen mudik lagi… Di saat gue melihat alam yang masih natural. Di saat gue harus menjaga sopan santun sepuluh kali lipat.

Argh, gue kangen waktu itu… Saat rumah nenek gue tiba-tiba kedatengan banyak tamu. Lalu gue yang belom mandi dan lagi nonton tipi jadi kalang kabut dan cuma bisa senyam senyum.

Sang tamu berkata, “Mambu opo iki?” (bau apa ini)

Dan nenek gue dengan seadanya menjawab, “Woo, Mambune Rea…” (baunya rea)

Dan dengan senyum yang sangat dipaksakan, gue sadar diri lalu mengambil handuk dan ngeloyor ke kamar mandi…

Di situlah letak seninya, men… Hahaha…


Actions

Information

12 responses

24 10 2008
dantyka

waduh buat novel nih kayaknya.. panjang bet
baca dulu ahh

24 10 2008
dantyka

ga boleh dibaca dulu katanya …
zzzzzz….

25 10 2008
dantyka

penghantar tidur yang baik..hehehe

ga seneng gw baca postingan lo kali ini re
sirik gw ah sama orang-orang yang mudik :(

25 10 2008
Rea

waktu penulisan, 9-24 Oktober… Ditunda-tunda mulu siih…
Argh, susunan kata-katanya kacau banget… arsip pribadi aja deh, ngga usah dibaca! sampah nih postingan…

25 10 2008
visi

reaa panjang bet postingannya,
gw baru baca sampe lo ke astana giri bangun tapi mata gw udah pegel..
ntar aja ah dilanjutin lagi. gw mau NF dulu haghaghag

25 10 2008
jarang mampir | BOCH

buset.kirain gue pas udah ub udah selese.
masih ada aja.
-_-a.
tambah sipit gue baca postingan lo re.

25 10 2008
Rea

yang pegel ngga usah dipaksain baca…… haha…

25 10 2008
amel KG

wew,,rea,, pegel euy bacanya,,hahaha

25 10 2008
Rea

hahaha…. udah, ngga usah dibaca… Sebetulnya mau gue jadiin arsip pribadi aja, biar gue ngga lupa.

5 01 2009
cah blitar

Ini posting dahsyat dari ABG yang pernah aku tahu. Panjang dan memikat. Satu-satunya cacat adalah ketidakpatuhan pada tata cara penulisan Bahasa Indonesia. Itu bisa diperbaiki sambil jalan. Kalau bisa setengah sempurna saja, aku yakin Rea kelak bisa jadi penulis hebat.

Sebagai tambahan, ada satu blog bagus yang mungkin Rea tertarik; http//andreasharsono.blogspot.com

Salam dari Blitar,

5 01 2009
Rea

@cah blitar: thanks buat saran dan kritiknya… Masih belajar menulis,hehe.

11 03 2009
yoga

weleh…..weleh………………!!!!ra mbois blazzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Leave a comment