Curhat Seorang Siswa Kelas 3 SMA yang Sedang Menggapai Cita-Cita

15 02 2009

Sebulan nggak nulis. Kayanya sekarang udah waktunya nulis lagi. Hehe. Refreshing…

Di tulisan kali ini, gue ingin berbagi potongan-potongan kejadian beberapa bulan ini. Let me start now…

*Suatu hari di bulan Desember, di TU SMA Labschool Rawamangun*

…. “Sebentar Pak, saya mau melengkapi formulirnya dulu…”

“Oh ya, silahkan nak…”

Setelah menarik napas dalam-dalam, gue mengisi kolom pilihan dengan pensil 2B runcing yang sudah gue sediakan. Bismillahirrahmanirrahim…

Fiuh, akhirnya gue isi juga

1. Fakultas Teknik Industri

2. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan

3. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

“Sudah? Sekarang tolong tempel fotonya di sini ya… Saya mau memeriksa kelengkapan berkasnya dulu.”…

*6 Januari 2009, di ruang BK*

Bu Erin: “Selamat, orang-orang yang ibu panggil ke BK ini mendapat kesempatan untuk mendaftar PMDK UI”

JEGER!

Gue segera menelepon nyokap untuk menanyakan sarannya. Beliau waktu itu berkata ambil aja. Siapa juga yang mau menyia-nyiakan PMDK UI?

Tanpa ba-bi-bu lagi, gue pulang ke rumah dan segera melengkapi persyaratan. Bikin foto, bikin surat sehat, surat bebas buta warna dan segalanya. Besok semuanya harus udah beres.

Tapi… Sampai di rumah gue jadi bimbang. Bokap nyokap personally prefer ITB than UI. So do I.

Kalau gue diterima di dua-duanya (AMIIN!), sangat besar kemungkinan gue melepas UI. Artinya gue akan mengambil hak orang lain.

“Kalau mau PMDK UI, ambil FK atau Ekonomi atau lebih baik nggak usah”

-jeng.jeng.jeng-

Waktu serasa berjalan begitu lambat saat itu. Seember air mata udah jadi korban. Keputusannya ada di tangan gue.

*7 Januari 2009, di ruang BK*

“Kamu sudah yakin?”

“Sudah bu. Saya sudah diskusi dengan orang tua”

“OK, sekarang tulis surat keterangan di sini.”

     Yang bertanda tangan di bawah ini,

     nama: Rea Candra Oktaviara

     kelas: XII IPA 2

     menyatakan mengundurkan diri dari pendaftaran PMDK UI.

“Maaf bu, jadi merepotkan”

“Iya, nggak apa-apa. Semoga diterima di ITB ya nak…”

“AMIIIN! Makasih ya bu…”

*sometime, somewhere*

“Kamu yakin mau masuk teknik? Kamu itu cewek lo…”

*14 Februari 2009*

Sebuah bangunan kotor berdiri di pinggir jalan. Gue enggan turun dari mobil. Di situ nanti gue akan menjalani SIMAK UI. (Well, gue mengikuti saran beberapa orang untuk ikut SIMAK. Nggak boleh mengandalkan PMBP ITB aja.)

Gue ilfil ngeliat tempatnya. DAMN.

Ya Allah, kenapa harus di sini? Aku sudah belajar sampai larut malam. Aku sudah bimbel sampai tidak pernah melihat matahari terbenam. Kenapa???

Aku sudah mendownload kartu peserta tepat waktu. Aku sudah membayar sebelum yang lain membayar. Kenapa harus di tempat ini? Dimana keadilan?

Bangunannya seperti tidak terawat. Besi-besi sudah mulai berkarat. Makin ilfil aja….

 

Ya Allah, Engkau yang Maha Tahu mana yang terbaik untukku. Engkau juga yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Karena itu, berikanlah aku yang terbaik…

Berkahilah tempat itu untukku. Lancarkanlah ujian SIMAK UI-ku nanti… Semoga kondisi tempat ujianku tidak mengganggu konsntrasiku saat mengerjakan soal nanti. Lancarkanlah jalanku untuk meraih cita-cita.

 

14 hari menuju SIMAK UI, 27 hari menuju PMBP ITB DAERAH. Bukakanlah jalan terindah untukku menggapainya… AMIIIN :)


Actions

Information

2 responses

15 02 2009
dantyka

aminnn

senggaknya lo nggak dapet di irian re..hahahahaaaa
karma karma karma *hati2 kalo ngomong makanya :p

1 03 2009
visi

amiin..
ah tempat nggak menentukan lulus apa enggaknya Re..
Gw malah sebel dapet tempat di sekolah yang AC-nya dingin banget, soalnya gw kebagian duduk di bawahnya dan tepat di depan gw ada meja pengawas pula jadi semua jawaban gw kadang kaya diliatin gitu udah banyak yang diisi apa nggak.

Leave a comment