Dapet Banyak Untung di Belitung

11 07 2009

Di awal kata, gw ingin mengucapkan permintaan maaf kepada para pembaca karena di dalam postingan ini, banyak terdapat kekurangan. Jelas aja, ini udah 3 hari setelah kejadian berlangsung. Selain itu, dari awal  gw emang gak niat untuk nulis laporan perjalanan. Jadi, data-data di dalam postingan ini banyak yang kurang akurat, seperti nama daerah secara rinci dan sebagainya. However, gw akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyajikan postingan ini dengan baik. *Berjuang*

DAY 1

Perjalanan gw ke Belitung bisa dibilang dilakukan dengan sangat dadakan. H – 2 bapak gw sms gw nyuruh buka www.belitungisland.com . Tapi karena emang gw lagi jarang buka internet (internetnya dimonopoli oleh adik gw), jadi nggak sempet gw buka. H – 1 siang, tiba-tiba nyokap ngasih tau kalo gw sekeluarga bakal pergi ke Belitung esok harinya. Dan Voila! tiba-tiba gw udah naik pesawat Batavia Air dengan tujuan Tanjung Pandan pada tanggal 4 Juli 2009 siang. Pesawat yang sempet delay 1 jam itu, sukses mendaratkan kami di Bandara H. As. Hanandjoeddin Tanjung Pandan….

a

First Impression

Belitung dari angkasa terlihat hijau dengan kebotakan di berbagai tempat. Bekas-bekas tambang timah yang udah nggak terpelihara gitu. Hijaunya juga bukan karena banyak pohon-pohon tinggi khas di hutan, melainkan tanaman-tanaman kebun seperti kelapa sawit. Hmm, not a good first impression huh? Turun di Bandara yang tidak terlalu besar, gw disambut oleh orang-orang yang nemplok di pager gitu. Entah pada nungguin apa. Mungkin menunggu sodara-sodaranya yang baru dateng dari Jakarta. Mungkiiiiiin… Percaya atau tidak, waktu mengalami kejadian itu, gw merasakan déjà vu. Gw pernah membayangkan kejadian ini sebelumnya. Ternyata, gw ngebayangin kejadian itu waktu baca salah satu novelnya Andrea Hirata, entah yang mana. Nanti gw cari-cari lagi kalau sempat…

b

Si pemandu wisata yang bernama Pak Dodi sudah menunggu kami. Setelah mengambil koper, kami pun tancap gas ke hotel. Hotel tempat kami beristirahat bernama Hotel Pondok Impian. Walaupun hanya hotel bintang 1, hotel ini yang paling bagus di Tanjung Pandan. Kru Laskar Pelangi termasuk Riri Riza dan Mira Lesmana selalu menginap di sini jika sedang ada kegiatan syuting di sekitar Tanjung Pandan. Selain mereka, banyak juga public figure yang pernah menginap di sini. Gw ngeliat di foto-foto yang ditempel di dinding restoran hotel tersebut. Waaaw, seru juga yaa..

Setelah check in, orang tua gw berunding dengan yang punya travel agent, Pak Kusuma, untuk membicarakan rencana perjalanan yang sedikit kacau akibat delay-nya pesawat. Emang kalau nggak delay nggak gaul deh. Haha. :p

Tanjung Tinggi

Lanjut, setelah makan siang di restoran Mutiara Laut (sea food nya enak abiiiisss) kami berkunjung ke Pantai Tanjung Tinggi. Jaraknya lumayan jauh dari hotel. Pantai ini ramai oleh batu-batu granit yang super duper besar. Rasanya pengen gw bawa pulang tuh batu-batunya…

c

Tempat ini juga dipakai syuting Laskar Pelangi loh… Ternyata oh ternyata,  Pantai Tanjung Tinggi sangatlah indah… Tidak akan ditemukan dimanapun di Pulau Jawa. Subhanallaaah… Sampai di sana rasanya gw pengen lari-lari main petak umpet kayak anak-anak Laskar Pelangi deeeh. Untung gw sadar umur yaaa :p

d

Sambil mengambil dan diambil gambar, gw menghirup udara dalam-dalam. Aaaah, indahnya dunia. Di sana ada spot yang paling bagus untuk mengambil foto. Di batu paling atas. Tapi karena kemampuan memanjat gw yang di bawah rata-rata, hanya bokap dan adik gw yang berhasil mencapainya. Gw iri tingkat tinggi waktu denger cerita mereka tentang luar biasa indahnya pemandangan dari atas sana. Tambah iri lagi waktu liat hasil foto-fotonya. Di atas sana, sinar matahari tidak terhalang oleh apapun. Cahaya bisa datang dari atas-kiri-kanan-depan-belakang. Siapapun yang foto di sana pasti jadi cantik. Gw jadi tambah iri dan menyesal tidak pernah mengasah kemampuan tubuh gw untuk memanjat. Heuh.

e

Kami singgah cukup lama di Tanjung Tinggi. Gw nggak pernah menyangka ada tempat seperti itu di dunia ini. Almost paradise… Di sana, lo mau sendirian ngelamun di atas batu aja pasti nggak bakal bosen deh. Yang amat disayangkan hanya satu, ketidakdisiplinan orang-orang yang berkunjung ke sana (gw nggak termasuk yaa). Banyak coret-coretan tidak bertanggung jawab di batu-batu granit yang seharusnya dibiarkan indah itu. Banyak sampah-sampah plastik di bibir pantai. Bukannya gw sok disiplin atau gimana, tapi ya sayang aja tempat seindah itu dirusak oleh hal-hal remeh macam itu. Apa kata turis-turis asing yang datang nanti??

f

Manggar & Gantong

Takut kelewatan tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi, kami segera cabut ke destinasi lainnya. Kami menempuh perjalanan yang sangaaat panjang. Jalanan sangat sepi. Kiri kanan hanya kebun kelapa sawit. Gw nggak tau berapa lama waktu yang telah kami habiskan di jalan. Yang jelas gw sempet ketiduran (tetep ya bakat tidurnya), hingga Pak Dodi menyampaikan bahwa kami sudah sampai di Manggar. Di daerah ini biasanya Ikal Laskar Pelangi membeli kapur untuk sekolahnya. Dan di sanalah dia bertemu dengan A Ling. Namun sayang kami tidak singgah karena hari yang sudah gelap.

Kemudian, kami ke Gantong. Tempat SD Muhammadiyah berada. Bangunan aslinya sudah tidak ada. Kini diganti oleh bangunan replika yang digunakan untuk syuting film Laskar Pelangi. Nggak perlu dideskripsikan kan? Pasti semua udah nonton filmnya kan? Haha, OK deeeeh.

g

Langit sudah sangat pekat, bulan yang hampir penuh dan taburan bintang mendekorasinya dengan cukup proporsional. Kami makan malam di bawah langit itu. Seafood lagi. Walau masakannya cukup enak, tapi karena sudah kedua kalinya dalam sehari, rasa enaknya jadi berkurang 40%. Cukuplah untuk memenuhi perut dan mengantar kami tidur di kamar Hotel Pondok Impian, Tanjung Pandan.

DAY 2

Veris & Ferdi

Sesuai judul postingan ini, gw emang dapet beberapa keberuntungan di sini. Keberuntungan pertama mengejutkan gw pada pagi hari ini. Pagi hari gw dibangunkan bokap. Gw disuruh cepat bangun. Katanya, anak-anak Laskar Pelangi udah nungguin di bawah. What? Dengan kesadaran tingkat rendah gw bingung sendiri. Padahal sih sebenernya udah dikasih tau malem sebelumnya kalau Pak Kusuma bakal ngebawa Mahar dan Lintang Laskar Pelangi ke hotel… haha. Itu mah bukan kejutan ya?

Setelah mandi dan berpakaian, gw meluncur ke bawah untuk sarapan. Gw duduk bersama bokap nyokap adek. Di ruangan itu ada beberapa anak kecil (selain adik gw). Setelah gw perhatikan, ternyata dua di antaranya adalah Veris Yamarno (Mahar) dan Ferdian (Lintang). Aye! Tapi emang otak tidak sejalan dengan perbuatan. Gw bukannya minta foto atau apa tapi malah diem aja. Ngambil sarapan dengan agak-agak sok cool lalu memakannya.

Dari kursi sederhana yang gw duduki, gw memperhatikan tingkah laku anak-anak yang pernah membius gw beberapa bulan yang lalu lewat aktingnya. Gayanya sangatlah biasa. Tentu pertama liat dari pakaiannya. Yaa, sama-sama aja kayak anak kecil normal. Kedua, kelakuannya. Diem-diem aja ah anaknya. Mereka lagi nonton TV. Nonton Dahsyat kalo nggak salah deh. Menonton dengan seksama.

Lalu mereka bosan dan menuju meja biliar. Karena bola-bolanya tidak lengkap, mereka hanya memain-mainkan bolanya saja. Setelah selesai sarapan, awalnya kami ingin langsung saja berkunjung ke tujuan selanjutnya (pulau-pulau kecil di sekitar Belitung). Namun, alangkah baiknya Pak Kusuma, dia menawarkan kami untuk berjalan-jalan ke pulau bersama Veris dan Ferdi. Yaaaaaaaay!!

h

Kami (ditambah Veris, Ferdi, dan anaknya Pak Kusuma) berangkat bersama dari hotel dengan mobil yang sama *super banget dah*. Gw sedikit terkejut dengan perubahan sikap anak-anak itu. Apalagi Veris. Di mobil, dia sangat berisik (dalam artian positif). Kalau kalian melihat aktingnya di Laskar Pelangi sebagai Mahar, ya kira-kira anaknya memang seperti itu. Bayangkan aktingnya yang suka membawa-bawa radio sambil menyanyi dan mengangguk-anggukkan kepala. Lalu, ganti radionya dengan handphone. Ya, seperti itulah gayanya sehari-hari. Hahaha… Mungkin tingkah lakunya yang pendiam di hotel tadi karena masih laper kali ya. Hmm..

Sampai di Pelabuhan Tanjung Kelayang, kami turun dari mobil dan memakai baju pelampung untuk berjaga-jaga. Kami akan naik perahu nelayan menuju pulau-pulau kecil. Di sana, gw masih tercengang dengan tingkah laku anak umur 13 tahun itu. Bener-bener pecicilan tapi bikin ketawa. Bener-bener beruntung gw jalan-jalan ditemenin sama mereka…

i

The Little Islands

Tujuan utama kami adalah Pulau Lengkuas. Perjalanan normal yang dibutuhkan untuk ke sana adalah 30 menit. Tapi, karena di antara Pulau Belitung dan Pulau Lengkuas banyak terdapat Pulau-Pulau kecil yang aduhai indahnya, kami mampir ke beberapa pulau tersebut. Gw sendiri nggak hapal nama pulaunya satu per satu saking banyaknya. (maaf ya.. )

j

Layaknya Pantai Tanjung Tinggi, pantai-pantai di sana juga indah karena batu-batu granit yang menghiasinya. Entah bagaimana batu-batu tersebut bisa terbentuk di sana dengan begitu cantiknya. Sepertinya terbentuk dari hasil goresan abrasi berulang-ulang kali. Terkadang, di atas batu-batu itu terdapat pepohonan yang subur layaknya tumbuh di daratan biasa. Gw nggak bisa membayangkan bagaimana panjangnya proses pelapukan batu itu hingga bisa ditumbuhi pepohonan dengan subur. Subhanallah…

Berbeda dengan Veris, Ferdi adalah anak yang cenderung pendiam (kayak gw.haha). Dia sering memperhatikan dengan serius sesuatu yang menempel di batu karang. Ternyata emang kalau diperhatikan lebih dekat, batu-batu itu ditempeli oleh berbagai macam makhluk hidup dari berbagai kingdom. Sepertinya didominasi oleh Mollusca, seperti siput dan kerang. Siput yang menempel itu bisa diambil dan dimakan. Tapi gw nggak berani memakannya… Lalu ada lagi yang namanya Tritip. Bentuknya seperti kerang tapi cangkangnya tunggal. Hidup berkoloni dan menempel di batu karang. Tubuhnya bisa dicongkel dari cangkangnya. Dan sekali lagi bisa dimakan. Ferdi dan nyokap sempet nyobain. Tapi mereka langsung melepehnya. Kata mereka, rasanya tidak enak, seperti ingus. Wuaduuuh, untung gw nggak nyobain yaa…

k

Selain binatang-binatang yang nempel di karang, banyak juga hewan-hewan laut unik di sekitar pantai. Ada bintang laut yang gedenya nauzubilah tapi lucu banget rasanya pengen gw bawa pulang tapi kasian,hehe. Ada juga ubur-ubur mati yang terdampar di pantai. Kasian sekaligus takut gw ngeliatnya. Waktu kecil gw pernah kesengat ubur-ubur. Gw masih inget rasa gatelnya yang tingkat tinggi. Bekas sengatannya pun masih tersamar di jari manis gw. Ckckck. Ferdi, Veris, dan adek gw dengan asiknya memereteli tentakel si ubur-ubur malang itu sampe gw geli sendiri. Udah gitu tubuhnya mereka bejek-bejek gitu pake batu. Ampun deh anak kecil jaman sekarang…

Ferdi sempat mengumpulkan kremis/kerang-kerang kecil warna putih untuk dibawa pulang. Katanya kalau dimasak rasanya enak. Yah, siapa yang tau? Gw cukup tau infonya ajalah, nggak usah nyobain.hehe.

l

Berbagai pulau kami jajaki. Ada yang unik, namanya Pulau Pasir. Dinamai pasir karena memang hanya terdiri dari pasir yang membukit. Mungkin karena kombinasi gelombang dari berbagai arah yang menyebabkan pasir di sana lebih tinggi dari tempat yang lain. Nah, uniknya, pulau ini kalau malam atau kalau sedang air laut pasang akan menghilang atau tenggelam. Sebenernya repot juga bagi perahu-perahu yang melintas di kala malam, bisa-bisa menabrak dan terjebak di Pulau Pasir itu kan.. Untungnya hal itu diakali dengan menandainya menggunakan tiang-tiang berbendera. Jadi, para pelaut tidak akan terjebak deh…

Pulau Lengkuas

Entah setelah berapa pulau akhirnya kami sampai juga di Pulau Lengkuas. Pulau yang paling ramai dikunjungi ini, dari jauh terlihat menonjol akibat adanya mercusuar yang tingginya bukan main. Sayang, sesampainya di sana kami disambut oleh cuaca yang buruk. Awan yang hitam tanda mau hujan. Benar saja, tak lama kemudian, hujan turun cukup deras. Gw jadi basah kuyup sebelum nyebur ke laut. Tapi ya sudahlah, emang tujuannya mau nyebur kan…hehe.

m

Setelah makan siang dan hujan mereda, gw mulai nyebur ke laut. Ada untungnya juga sih hujan, udara jadi sejuk dan matahari terhalang jadi tidak begitu menghitamkan kulit. Untungnya juga, air lautnya nggak ikutan dingin kena hujan. Airnya tetap hangat, dan gw jadi bebas berenang menikmati laut. Yeeeess!

Suasana makin ramai karena ada Veris. Usil banget anaknya. Waktu gw main ayunan, didorong kenceng-kenceng. Waktu lagi di pantai, suka ngelempar-lempar pasir. Waktu lagi berenang di laut suka narik-narik kaki. Waktu lagi diem aja, suka nyubit lengan orang, tau aja lengan gw berlebih lemak.ckckck..

Gw snorkeling di sekitar pantai yang tidak terlalu dalam. Di situ, terumbu karangnya lumayan bagus. Gw puas ngeliat karang-karang di situ! Lalu, si pengemudi perahu nelayan yang gw tumpangi (bisa disebut nahkoda nggak sih?hehe) menawarkan untuk snorkeling di tempat yang lebih dalam. Katanya, di tengah laut sana terumbu karangnya lebih dahsyat. Baiklah, gw pun menyanggupi tawaran itu. Setelah memakai pelampung dan kaki katak, gw berenang ke sana. Si nahkoda emang dahsyat. Dengan modal kaki telanjang dan tanpa pelampung dia berenang ke tengah laut. Berenangnya juga cepet banget. Gw dan bokap sering ketinggalan jauh sama dia. Belajar berenang di mana ya? Ckckck.

n

Ternyata emang bener, di tengah laut, terumbu karangnya lebih dahsyat. Gw cuma bisa diem dan dalem hati mengucap subhanallah… Gue belum pernah ke Bunaken jadi nggak bisa membandingkannya. Tapi di situ aja terumbu karangnya udah mantep bangeeeeet. Ikan-ikannya juga banyak dan sangat unik. Jadi pengen belajar diving deh biar bisa melihat dari dekaaaat. Huhuhu.

Kami menghabiskan siang di Pulau Lengkuas. Gw nggak berani naik mercusuarnya karena cuaca buruk. Di Pulau Lengkuas tentu aja ada banyak batu-batu granit khas Belitung. Indah sekali……. Siang itu sangatlah indah, dari pantai gw melihat puluhan wisatawan (kayaknya sih pribumi semua) menikmati laut. Ferdi sempat memancing dengan cara yang sederhana. Mengulurkan tali berisi umpan ke bawah laut. Dia hanya mendapatkan satu ikan kecil. Sayang sekali…

o

FYI, Pulau Lengkuas ini dihuni oleh hanya 2 orang. Waaaw, gw nggak bisa ngebayangin tuh gimana seremnya sendirian di Pulau terpencil gitu kalau malem-malem.hiiii..

Beberapa jam sebelum matahari terbenam, kami bertolak ke Pulau Belitung lagi. Sempat hujan sebentar, jadi kami berteduh di satu pulau. Dalam perjalanan pulang, anak-anak mulai diam karena lelah berenang seharian. Gw pun sangat lelah. Tapi senaaaang :)

Sampai di Pelabuhan Tanjung Kelayang, kami membilas diri dan berganti pakaian kering. Veris yang sebenarnya membawa pakaian ganti dari rumah enggan berganti pakaian dengan alasan sayang bajunya. Sebagai gantinya, dia hanya mengenakan kaos kutang sampai pulang. Adooh, dasar anak kecil yang satu ini. Ckckck.

Dinner at Bukit Berahu

Kami menikmati dinner dan sunset di daerah wisata Bukit Berahu. Tempat ini memang berupa bukit yang berada di tepi pantai. Karena itu dinamakan Bukit Berahu. Di sana, banyak sekali wisatawan dari Jakarta. Melihat ada Veris dan Ferdi, mereka langsung berebut minta cium. Haha, nggak lah. Mereka langsung berebut minta foto bareng. Ckckck, emang susah ya jadi artis. Kasian juga ngeliat mereka terombang-ambing dikerubungin fansnya. Apalagi Ferdi. Dia agak malu-malu gitu diajak foto. Kalau Veris mah nggak usah ditanya, banci foto bangeeeet. Ngeliat mereka digituin, rasanya gw pengen berdiri dan berteriak, “Saya juga artis loh, ibu-ibu… sini foto sama saya…”. Hahaha, untung gw masih berakal sehat.

Tapi gw pikir-pikir, beruntung juga ya keluarga gw bisa jalan-jalan bareng sama mereka seharian gitu. Tanpa permintaan khusus, langsung dikasih. Belakangan ini gw baru tau kalo mereka emang memanfaatin liburan mereka dengan nemenin tamu-tamunya Pak Kusuma. Iya juga sih, lumayan buat nambah-nambah uang jajan. Selama anaknya mau dan sanggup kenapa enggak?

p

Sayang, matahari terbenamnya nggak kelihatan gara-gara mendung. Untungnya terbayar oleh makan malam yang sedap. Untung bukan seafood lagi. Kalau iya bisa-bisa mabok makanan laut deh gw. Sambil makan, kami berbincang-bincang. Pendidikan anak-anak Laskar Pelangi ternyata sudah terjamin sampai kuliah nanti. Waktu ditanya mau kuliah dimana, mereka menyebut 3 perguruan tinggi yang emang top di Indonesia. Bisa nebak kan apa aja? UI, ITB, UGM. Gw berharap semoga mereka bisa menggapai cita-cita mereka masing-masing. Semua orang berhak mengembangkan dirinya masing-masing, kenapa mereka enggak? Bisa bergabung dalam Laskar Pelangi memang suatu anugerah bagi mereka…

By the way, waktu terasa begitu cepat berlalu. Tibalah waktunya kami untuk kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan, Veris dan Ferdi masih meramaikan suasana. Mereka pandai bernyanyi. Lagu-lagu yang mereka lantunkan pun lagu-lagu yang populer jaman sekarang. Yaa, ada juga sih nyelip lagunya Ebiet G. Ade. Mereka juga pandai menirukan berbagai macam logat dari Padang, Sunda, sampe Jawa. Paling kocak waktu mereka niruin logatnya pemain-pemain di sinetron Inayah. Top abis daaah. Gw sampe ngakak dengernya.

Tiba di hotel, memang tidak menyenangkan. Tanda kami harus berpisah. Perjalanan singkat dalam satu hari ini benar-benar membuat gw terbius dan terlena dalam euforia. Ketika harus berpisah dengan mereka rasanya gw nggak rela. Nggak rela menjadikan mereka kenangan singkat yang hanya tersimpan di otak dan memory card kamera. Gw berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Dalam kesempatan yang lebih indah. Amiiiin. Rasanya gw pengen bawa mereka ke Jakarta dan gw jadiin adek. Tapi emang Belitunglah tempat terbaik bagi mereka. Mereka sudah sangat cinta dengan pulaunya. Dan gw juga tidak mau jauh-jauh dari Jakarta. Ya sudahlah, emang setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan…… Good Bye sahabat kecilku… Nice to meet you (baca: tumit kamu bagus deeeh. *gw dapet lelucon ini dari Veris*)…

q

q2

Sepertinya lagu Ipang – Sahabat Kecil sangat cocok menjadi backsound perasaan ini.

Dengan berat hati, gw pun naik ke kamar dan berlayar ke pulau kapuk. Rasanya gw takut tidur karena takut ternyata semua cuma mimpi. Tapi rasa lelah yang luar biasa mampu mengalahkannya.

DAY 3

Mencari Buah Tangan dan Berpisah…

Tibalah hari terakhir kunjungan gw ke pulau ini. Sangat singkat, karena pukul 11.30 pesawat kami akan take off ke Jakarta. Sisa hari yang sangat singkat di Belitung ini dimanfaatkan untuk pergi ke pusat kota Tanjung Pandan guna membeli buah tangan.

Kami awali pagi ini dengan sarapan Mi Belitong di pusat kota. Hmm, berbeda dengan indomie yang biasa gw makan (ya iyalah). Kuahnya manis, dilengkapi dengan tahu dan udang. Rasanya mirip tahu campur. Lumayan sedap. Cukup untuk memenuhi kebutuhan akan ATP.

Sebagai minuman penutup, kami rehat sejenak di sebuah warung kopi. Cukup berjalan sedikit dari warung Mi Belitong. Warung kopi ini sudah sangat tua. Yang punya namanya A Kiong, tapi bukan warung kopinya A Kiong Laskar Pelangi.hehe. Kalo A Kiong Laskar Pelangi warungnya ada di daerah Manggar (kalau gw nggak salah). Karena gw nggak terbiasa minum kopi kecuali kalo lagi ujian atau tugas numpuk, jadi gw cukup meneguk teh susu yang juga enaaaaak.

Lanjut, nyokap membeli kerupuk-kerupuk dan panganan khas daerah situ untuk oleh-oleh. Sebenernya nggak ada yang khas banget sih. Hampir sama dengan kerupuk-kerupuk khas Sumatera. Kami juga mampir ke galeri oleh-oleh khas Belitung. Gw membeli beberapa souvenir di sana.

Sudahlah, cukup untuk hari ini karena waktu emang nggak bisa diajak kompromi. Sebelum ke airport, kami sempat mengitari kota Tanjung Pandan. Terlihat sisa-sisa kejayaan timah di masa lalu. Juga sisa-sisa kejayaan hasil tambang khas Belitung lainnya yang habis dimakan krisis. Ironis memang.

Tidak terasa, kami sudah duduk di ruang tunggu airport. Menunggu pesawat datang. Untungnya tidak delay lagi. Pesawat Batavia Air yang baru datang dari Jakarta langsung menaikkan penumpang lagi setelah menurunkan penumpang lainnya. Dengan berat hati, gw langkahkan kaki gw menuju pesawat itu, menyodorkan boarding pass kepada petugas untuk disobek. Menginjakkan kaki di Belitung untuk terakhir kalinya dalam kunjungan kali ini. Belitung memang tempat yang sangat indah dan eksotis, sangat sayang untuk ditinggalkan. Gw berharap, gw bisa ke sana lagi di lain kesempatan. Gw berharap, keindahan alam yang luar biasa itu tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang gila harta……

Tempat ini bisa dijadikan lebih indah bila ada kemauan. Tidak perlu keliling dunia dulu lah boi… Negaramu ini masih menyimpan sejuta potensi keindahan yang belum terjamah…

r


Actions

Information

7 responses

11 07 2009
Rea

perjuangan menulis 3 hari + beberapa jam akibat trouble posting. selamat membaca, kawan… yang nggak mau baca juga nggak apa-apa. saya sudah puas melihat postingan ini. dokumentasi untuk saya pribadi :P

11 07 2009
ijhe

REAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
i really miss this blog, lo harus harus janji kelingking sama gua(berarti itu sakral buat eike) jangan tinggalin blog ini sampe lo jadi nenek nenek, ya?!

terus, harusnya pas ke belitong lo ajak gua, ntar tak gendong ke batu gede itu, lo kan tau gua JOBU!!!

kalo gua liburan ke belitung gua minta no. hpnya PAK KUSUMA, mau juga ketemu verisss, walaupun lo bilang dia banci, nyahahah

love,
ijhe

12 07 2009
Rea

Thank you so much ijhe sayaaaaang…
OK, gw akan berusaha untuk setia ngeblog. Haha, iya ya harusnya lo gw ajak buat gendong gw ke batu paling atas.
nanti kabar2in aja kalo jadi ke belitung.
Kalo mau ketemu sama veris, lebih baik pas liburan. haha, walaupun BANCI foto, tapi anaknya bener-bener nyenengin. gemes gw….
by the way, thank you udah baca blog aku ;)

30 07 2009
Rara

reeeee, liburan dan postingannya bagus banget!
like this so much :D

8 08 2009
Rea

Thank You dear :) still learning how to make better posts

2 09 2009
DBS

salam kenal ne

30 09 2009
David

sebenernya gak-bagus-bagus mat sih! terlalu didramatisir..he he

Leave a comment